CITA-CITA SETINGGI TOWER
Waktu menunjukan pukul 06.00, matahari telah menampakkan sinarnya,
tibalah saatnya aku untuk pergi menuntut ilmu di Madrasah Aliyah Negeri Babakan
Lebaksiu Tegal. Rasa ngantuk masih menyelimuti dan rasanya ingin menuju pulau
kapuk kembali. Namaku Afif, Aku tinggal disebuah rumah kontrakan tak jauh dari
Madrasah, aku tinggal bersama 5 remaja ugal-ugalan, mereka adalah Salman, Ade,
Nizar, Olan dan Ega. Bisa dikatakan kami adalah siswa yang susah diatur, kalo
bahasa Tegalnya mblatang, Hehe. Mbolos telat sudah biasa, tapi kami adalah
siswa yang terkenal, bahkan dikenal oleh guru-guru, ya walaupun terkenal karena
nakalnya. Diantara kami berenam yang masih mending ngga nakal-nakal amat ya si
Salman ama si Ade, mereka rajin ya walaupun sesekali mereka berdua nakal.
Pagi ini Salman dan Ade bangun duluan, mereka berdua membangunkan
kami yang masih tertidur pulas, tetapi usaha tersebut gagal dilakukan, ya
maklum lah... masa remaja begadang semalaman sampe akhirnya susah dibangunkan.
Salman dan Ade yang sudah kesal terhadap kami pun bergegas berangkat Madrasah
meninggalkan kami.
Setelah lama kami terdidur akhirnya Nizar terbangun juga. Jam
menunjukkan pukul 08.00, Nizar pun membangunkan kami, alangkah terkejutnya
kami, ternyata udah siang, kami pun langsung bergegas mandi, berpakaian dan
langsung berangkat ngga sempat sarapan, pokoknya sampai Madrasah dulu. Sesampainya
disana kami pun langsung masuk kelas dan alangkah leganya ternyata gurunya ngga
masuk. Kami pun langsung menghampiri Salman dan Ade.
Aku : “Kenapa lu berdua
ninggalin kita-kita ??!! jam lima lebih sejam udah berangkat.”
Nizar : “Iya jam tujuh
kurang sejam sudah sampai sini.”
Olan : “Tinggal ngomong jam
enam ajah susah amat...”
Ega : “Sudah-sudah ga
usah ribut, gue yang ngga ngerti jam ajah diem.”
Salman: “lu pada susah dibangunin makanya gue tinggal”
Aku : “Tega lu ama temen
sendiri, dasar lu ngga setia kawin, eh setia kawan maksutnya.”
Nizar : “Dah lah ngga usah
ribut, mending kita keluar aja yuk mumpung ngga ada gurunya.”
Kami : “Lets to the go...
Lets go.”
Kami pun sampai di teras depan kelas berbincang-bincang tentang
cita-cita kami, bisa dibilang cita-cita kami tinggi tapi tak setinggi langit
tapi cuman setinggi tower, jhahaha. Salman bercita-cita sebagai penemu terkenal
di bidang elektro karna memang disitu keahliannya. Ade ingin menjadi pembalap.
Ega ingin punya restoran banyak bercabang-cabang. Nizar berambisi menjadi
musisi terkenal yang manggung dimana-mana. Olan menghayal ingin menjadi
direktur, yang keliatannya keren memakai jas, dasi dan membawa koper berisikan
uang banyak. Dan yang terakhir saya yang bercita-cita menjadi orang kaya yang
punya banyak kapal.
Waktu berlalu begitu cepat hingga akhirnya kami pun telah lulus
Madrasah. Kami bertekad agar suatu saat jika sudah sukses jangan lupa kawan
lama yang sudah hidup bersama dikala suka maupun duka. Kami pun berpisah.
5 tahun kemudian....
Memang rezeki sudah diatur oleh Allah, aku kini bekerja sebagai
petani. Suatu hari setelah pulang dari sawah saya berpapasan dengan Olan, kami
pun berbincang-bincang sambil mencari warung agar enak ngobrolnya. Tibalah kami
disebuah warung makan, tak lama datanglah nizar yang bernyanyi sambil memainkan
ukulele, kami tak asing dengan wajahnya, lantas aku dan Olan memanggilnya
masuk. Beberapa saat kemudian juga datang salman memakai sepeda motor, kami
kaget bukan main, bisa kebetulan sekali kita bisa berkumpul, tetapi kurang dua
ini, semoga Ade dan Ega datang kesini, do’a kami seperti itu. Dari dalam warung
keluarlah bos warteg tersebut. Ternyata
Ega lah pemilik warteg tersebut,
Ega baru di omongin langsung dateng, panjang umur si Ega. Tiba-tiba
datanglah seseorang dengan membawa becak dan handuk kecil di lehernya, ia
ternyata Ade, tak ku sangka ternyata lengkap sudah sahabat lama.
Kami berbincang-bincang tentang pekerjaan kami saat ini, Salman
yang dulunya bercita-cita sebagai penemu bidang elektro ini bekerja sebagai
teknisi listrik yang memperbaiki alat elektronik, Olan yang dulu bercita-cita
sebagai direktur berjas dan berdasi kini tercapai memakai dasi dan membawa
koper tapi bukan sebagai direktur tapi sebagai sales produk kesehatan. Nizar
yang dulu ingin menjadi musisi terkenal sekarang jadi pengamen, ade yang dulu
cita-citanya pembalap sekarang jadi pembalap tapi balap antar tukang becak. Ega
dulu berkeinginan mempunyai banyak restoran sekarang tercapai ya walaupun baru
sekedar warung makan. Saya pun tercapai punya kapal banyak, kapalan maksudnya
hehe maklum lah petani pekerjaanya mencangkul jadi wajar kalo tangannya
kapalan.
Kami pun ngobrol tentang masalalu kami yang nakal, mungkin inilah
karma yang kami terima pas dulu malas belajar, cita-cita tak sesuai impian.
Akhirnya kami berembug agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, akhirnya
kamipun saling mengajak ke tempat yang ada lowongan pekerjaan yang layak,
akhirnya kami pun sukses bersama-sama berkat dukungan dan bantuan sahabat lama.
0 comments:
Post a Comment