Thursday, 26 October 2017

Contoh Cerpen Cita-Cita Setinggi Tower


 
CITA-CITA SETINGGI TOWER

Waktu menunjukan pukul 06.00, matahari telah menampakkan sinarnya, tibalah saatnya aku untuk pergi menuntut ilmu di Madrasah Aliyah Negeri Babakan Lebaksiu Tegal. Rasa ngantuk masih menyelimuti dan rasanya ingin menuju pulau kapuk kembali. Namaku Afif, Aku tinggal disebuah rumah kontrakan tak jauh dari Madrasah, aku tinggal bersama 5 remaja ugal-ugalan, mereka adalah Salman, Ade, Nizar, Olan dan Ega. Bisa dikatakan kami adalah siswa yang susah diatur, kalo bahasa Tegalnya mblatang, Hehe. Mbolos telat sudah biasa, tapi kami adalah siswa yang terkenal, bahkan dikenal oleh guru-guru, ya walaupun terkenal karena nakalnya. Diantara kami berenam yang masih mending ngga nakal-nakal amat ya si Salman ama si Ade, mereka rajin ya walaupun sesekali mereka berdua nakal.
Pagi ini Salman dan Ade bangun duluan, mereka berdua membangunkan kami yang masih tertidur pulas, tetapi usaha tersebut gagal dilakukan, ya maklum lah... masa remaja begadang semalaman sampe akhirnya susah dibangunkan. Salman dan Ade yang sudah kesal terhadap kami pun bergegas berangkat Madrasah meninggalkan kami.
Setelah lama kami terdidur akhirnya Nizar terbangun juga. Jam menunjukkan pukul 08.00, Nizar pun membangunkan kami, alangkah terkejutnya kami, ternyata udah siang, kami pun langsung bergegas mandi, berpakaian dan langsung berangkat ngga sempat sarapan, pokoknya sampai Madrasah dulu. Sesampainya disana kami pun langsung masuk kelas dan alangkah leganya ternyata gurunya ngga masuk. Kami pun langsung menghampiri Salman dan Ade.
Aku     : “Kenapa lu berdua ninggalin kita-kita ??!! jam lima lebih sejam udah berangkat.”
Nizar   : “Iya jam tujuh kurang sejam sudah sampai sini.”
Olan    : “Tinggal ngomong jam enam ajah susah amat...”
Ega      : “Sudah-sudah ga usah ribut, gue yang ngga ngerti jam ajah diem.”
Salman: “lu pada susah dibangunin makanya gue tinggal”
Aku     : “Tega lu ama temen sendiri, dasar lu ngga setia kawin, eh setia kawan maksutnya.”
Nizar   : “Dah lah ngga usah ribut, mending kita keluar aja yuk mumpung ngga ada gurunya.”
Kami   : “Lets to the go... Lets go.”
Kami pun sampai di teras depan kelas berbincang-bincang tentang cita-cita kami, bisa dibilang cita-cita kami tinggi tapi tak setinggi langit tapi cuman setinggi tower, jhahaha. Salman bercita-cita sebagai penemu terkenal di bidang elektro karna memang disitu keahliannya. Ade ingin menjadi pembalap. Ega ingin punya restoran banyak bercabang-cabang. Nizar berambisi menjadi musisi terkenal yang manggung dimana-mana. Olan menghayal ingin menjadi direktur, yang keliatannya keren memakai jas, dasi dan membawa koper berisikan uang banyak. Dan yang terakhir saya yang bercita-cita menjadi orang kaya yang punya banyak kapal.
Waktu berlalu begitu cepat hingga akhirnya kami pun telah lulus Madrasah. Kami bertekad agar suatu saat jika sudah sukses jangan lupa kawan lama yang sudah hidup bersama dikala suka maupun duka. Kami pun berpisah.
5 tahun kemudian....
Memang rezeki sudah diatur oleh Allah, aku kini bekerja sebagai petani. Suatu hari setelah pulang dari sawah saya berpapasan dengan Olan, kami pun berbincang-bincang sambil mencari warung agar enak ngobrolnya. Tibalah kami disebuah warung makan, tak lama datanglah nizar yang bernyanyi sambil memainkan ukulele, kami tak asing dengan wajahnya, lantas aku dan Olan memanggilnya masuk. Beberapa saat kemudian juga datang salman memakai sepeda motor, kami kaget bukan main, bisa kebetulan sekali kita bisa berkumpul, tetapi kurang dua ini, semoga Ade dan Ega datang kesini, do’a kami seperti itu. Dari dalam warung keluarlah bos warteg tersebut. Ternyata  Ega lah pemilik warteg tersebut,  Ega baru di omongin langsung dateng, panjang umur si Ega. Tiba-tiba datanglah seseorang dengan membawa becak dan handuk kecil di lehernya, ia ternyata Ade, tak ku sangka ternyata lengkap sudah sahabat lama.
Kami berbincang-bincang tentang pekerjaan kami saat ini, Salman yang dulunya bercita-cita sebagai penemu bidang elektro ini bekerja sebagai teknisi listrik yang memperbaiki alat elektronik, Olan yang dulu bercita-cita sebagai direktur berjas dan berdasi kini tercapai memakai dasi dan membawa koper tapi bukan sebagai direktur tapi sebagai sales produk kesehatan. Nizar yang dulu ingin menjadi musisi terkenal sekarang jadi pengamen, ade yang dulu cita-citanya pembalap sekarang jadi pembalap tapi balap antar tukang becak. Ega dulu berkeinginan mempunyai banyak restoran sekarang tercapai ya walaupun baru sekedar warung makan. Saya pun tercapai punya kapal banyak, kapalan maksudnya hehe maklum lah petani pekerjaanya mencangkul jadi wajar kalo tangannya kapalan.
Kami pun ngobrol tentang masalalu kami yang nakal, mungkin inilah karma yang kami terima pas dulu malas belajar, cita-cita tak sesuai impian. Akhirnya kami berembug agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, akhirnya kamipun saling mengajak ke tempat yang ada lowongan pekerjaan yang layak, akhirnya kami pun sukses bersama-sama berkat dukungan dan bantuan sahabat lama.  

0 comments:

Post a Comment

Kumpulan Novel dan Cerpen © 2008 Template by:
SkinCorner